Monday, February 15, 2021

JAPAN TRIP 2019: Keberangkatan dan Ketibaan

Sebelumnya...



Sekitar pertengahan tahun, mendadak Miss J info tidak bisa ikut perjalanan kali ini karena baru keterima kuliah, sayang kalau baru masuk nantinya sudah absen. Baiklah... jadi Om S dan Tante N saja yang tetap ikut, tiket dan lain-lain yang tidak bisa batalkan jadi hangus. Total perserta jadi 8 orang, kami tetap excited dan ada yang beli baju hangat karena memang ramalan cuaca bilang dingin. Eh tapiiiii mendadak sebelum keberangkatan keluarlah berita tentang Typhoon Hagibis! Reaksi saya: Haaaa??? Lagggiii??? 😂 Tapi setelah cek rute arahnya, seharusnya tidak mempengaruhi perjalanan kami, saat typhoon lewat harusnya kami sudah di Kyoto dan aman. Masih hepi lah semua.


Rabu, 9 Oktober 2019
Semua peserta ketemuan di Terminal 3 Bandara Soetta Pk. 17.00 untuk penerbangan Pk. 20.15. Ada yang baru kenalan-kenalan tapi syukurlah bisa langsung akur. Saat tiba saya langsung ambil modem wifi di gerai Javamifi Terminal 3. Setelah semua berkumpul, check-in dan kita langsung masuk supaya sempat makan malam di dalam, pas jam makan toh. Ndilalah pas masuk sepertinya di atas hanya ada BK, terpaksa semua makan disitu. Selesai makan langsung turun menunggu di gate. Entah mengapa kami mendengar panggilan penerbangan kami tapi kok gate-nya sepi? Ternyata saat kami makan ada pengumuman gate-nya pindah dan kami gak ada yang dengar 😓 Tapi sepertinya bukan hanya kami yang gak sadar karena ada beberapa orang lainnya yang bingung celingukan dan akhirnya ikut lari-lari bareng ke gate yang baru. Wah, baru mau terbang udah seru aja!

Tiba di Changi Airport untuk connecting sudah jampir jam 23.00 waktu setempat. Setelah pindah terminal, yang lain masih sempat jalan-jalan ke sunflower garden sementara saya harus membalas beberapa email kantor akibat saya lupa pasang auto-reply email untuk info bahwa saya sedang cuti. Karena saya sudah gak kuat begadang, sebenarnya saya sudah mengantuk, tapi seperti biasanya tentu saja saya gak bisa tidur dalam penerbangan Singapore - Nagoya. Oh iya, sebelumnya saya membeli Sleepy Ride - Airplane Footrest. Ternyata benda ini sangat berguna dan mengurangi rasa pegal di pinggang karena kaki saya tidak menggantung ke bawah. Penerbangan jadi lebih nyaman!

Seperti ini barangnya. Tinggal di sangkutkan di meja dan bisa di adjust tingginya.
Photo credit: sleepyride.com


Kamis, 10 Oktober 2019
Pesawat seharusnya mendarat Pk. 09.05 waktu setempat, tapi saat itu kita sampai kurang lebih 30 menit lebih cepat. Jadi saya mengirim pesan kepada car rental operator bahwa kami sudah mendarat dan menunggu di suatu tempat, sambil kasih ancer-ancer kami di sebelah mana. Japanese service selalu memuaskan, mobil tiba tepat waktu dan driver menemui kami di depan arrival hall. Dia langsung membawa kami menuju mobil tapi ternyata 1 mobil lainnya masih belum sampai. Kami santai aja, malah sibuk mulai foto-foto padahal masih di depan parkiran 😂 Katanya penerbangan penumpang sebelumnya terlambat mendarat, sehingga mobil juga terlambat menjemput kami. Gak masalah, kami hanya menunggu sekitar 15 menit, ga seberapa dibanding jam tunggu kalau di Jakarta 😛

Salah satu display di Arrival Hall. Sempat ambil peta juga disini.

Muka-muka segar, semua sudah cuci muka dan sikat gigi begitu mendarat :)

Perjalanan dari Chubu Centrair International Airport ke Hotel Wing International Nagoya memakan waktu sekitar 1 jam lebih sedikit. Driver mobil saya cukup suka ngobrol dan bertanya-tanya tentang kami juga, walaupun setengah perjalanan saya sudah kriyep-kriyep karena begadang kan ya hihi Tiba di hotel kami belum bisa check-in, tapi kami sudah aware jadi hanya drop bagasi dan tanya ke front desk dimana persisnya stasiun kereta terdekat. Kami langsung menuju kesana dan naik kereta ke Nagoya Station untuk makan siang. Semua makan sesuai selera masing-masing, saya bergabung dengan Mrs G, Mr H, Miss M & Mr S untuk makan katsu. Sedangkan Tante-tante dan Om sepertinya pilih chinese food yang lebih familiar

First meal in Nagoya yang terkenal dengan tonkatsu-nya. Emang enak sih demi glace sauce-nya.

Setelah makan kami sempat berjalan-jalan sebentar. Baru juga jalan-jalan sebentar saya pun sudah mengocor di Disney Store karena lagi sale dan ada handuk Stitch! Yolohhh, sehari juga belon Tre! Tapi gimana dong, kan saya suka Stitch dan koleksi 😑 Kembali menggoda diri masuk ke Ghibli Store, pingin juga beli merchandise juga tapi syukurlah masih waras karena harganya mahal-mahal dan tokoh kesukaan saya, Ponyo, hanya ada boneka nya. Gak jadi deh, foto-foto aja sama Totoro dan Neko Bus

Rasanya pingin bawa pulang dan taruh kasur di dalamnya...

Totoro yang paling banyak merch nya, ini juga lucu ya kalo jadi penjaga depan kamar *ngayal*

Sewaktu di Nagoya Station saya sekalian cari tempat dimana tour bus untuk daytrip ke Shirakawa-go parkir. Tentunya juga saat itu semua kalap beli minuman dan cemilan di konbini yang dekat hotel kami. Dan yang pertama yang saya beli saat adalah Lipton Lemon Tea! Langsung ngabisin 1 kotak! Duh, saya sukaaaaa banget minuman ini dan setiap kali ke Jepang ini pasti saya stock di kulkas 😅

Dan gak pernah foto, selalu lupa. Photo credit: diambil dari sini. Terima kasih.

Selain minuman ini saya juga selalu beli salad labu kemasan, biasanya untuk makan pagi. Dan gak lupa acara wajib: Berburu Pocky! Iya, saya lebih suka berburu Pocky daripada KitKat. Selain macam-macam rasanya, ukurannya juga ada beda-beda, gak cuma yang standard aja. Jadi sore itu saya pun beli Pocky Almond untuk bekal daytour besoknya. Setelah lewat jam check-in kami kembali ke hotel dan beristirahat di kamar masing-masing. Karena Miss J batal ikut, maka ada perubahan susunan kamar. Kamar triple dipakai oleh Om S, Tante N dan Tante I, sedangkan saya pakai 1 kamar double sendiri. Mungkin karena malam sebelumnya semua kurang puas tidur di pesawat, kami yang tadinya janjian mau cari dinner bareng akhirnya pergi sendiri-sendiri karena bablas ketiduran! 😂

Sekitar jam 5 sore saya cek teman-teman lain ada yang masih tidur, ada yang mager dan belum tahu mau makan dimana. Akhirnya saya mandi dan pergi keluar sendiri. Tujuan saya: Oasis 21. Kalau lihat peta sepertinya tidak terlalu jauh dari hotel. Untuk menuju ke Oasis 21 saya berjalan menyusuri Sakae Shopping Street. Entah kenapa, melihat lampu-lampu toko di sepanjang jalan, melihat vending machine bertebaran, rasanya seperti "Ah, akhirnya saya beneran kembali ke Jepang!" 😀

Saya lama loh berdiri di depan toko ini melihat si Bapak bekerja membetulkan sebuah sepatu.

Sempat mikir juga apa makan di Cafe Million ini aja? Tapi lebih penasaran ke Oasis 21.

Mungkin karena saya jalannya banyak berhenti-henti melihat-lihat toko atau tempat yang menarik, saat saya sampai di Oasis 21 ternyata teman-teman lain sudah disana juga dan lagi foto-foto di bagian luar gedung. Kita gak ketemu di jalan.

Memang kelihatan seperti sebuah Spaceship ya :)

Sempat foto di depan tulisan ini tapi mukanya gelap LOL Menara di belakang itu adalah Nagoya TV Tower yang merupakan TV Tower tertua di Jepang yang selesai dibangun tahun 1954.

Kelihatan besarnya dari dekat! Di bawah itu banyak tempat makan dan restoran. Yang di tengah itu adalah tangga dan escalator buat naik ke platform. Nanti setelah makan saya sempat jalan-jalan di atas sana.

Terminal Bus yang terletak di lantai 2. Tapi sayangnya gak sempat ngerasain.

Oasis 21 dibuka untuk umum pada tahun 2002 dan terdiri dari Rooftop Spaceship-Aqua, Terminal Bus, Galaxy Platform dan shopping center. Berhubung sudah lapar, saya hanya foto-foto secukupnya aja supaya bisa cepat makan dan mau naik ke Spaceship-Aqua. Walaupun sudah ketemuan disana makan pun kita tetap misah-misah karena sesuai selera masing-masing :) Saya memilih sebuah resto western dan memesan Prawn Creamy Baked Rice. Saat saya sedang menunggu pesanan Mrs G & Mr H pun sampai tapi mereka memilih makan di tempat yang lain juga 😃 Entah kenapa ya setiap acara makan selera saya sering gak pas sama yang lain hahaha

Prawn Creamy Baked Rice. Setiap kali lihat foto ini saya jadi lapar loh :)

Setelah puas makan-makan kami pun naik keatas Spaceship-Aqua. Bagus banget! Di sepanjang pathway nya dihiasi lampu yang berganti-ganti warna dan ditengahnya ada semacam kolam dengan air yang terus mengalir. Kami duduk-duduk disana dan menikmati pemandangan 

Iya, kacanya tembus pandang jadi kita bisa melihat ke bawah LOL Mungkin yang takut ketinggian harus merem ya.

Hotel kecil yang di ujung itu juga lampunya berwarna-warna, cakep deh.

Sayang sekali saat itu Nagoya TV Tower sedang renovasi, sehingga lampunya tidak menyala. Padahal seharusnya bagus sekali kelihatan dari atas sini.

Kami tidak main disini sampai malam sekali, karena harus tidur cepat supaya besok pagi tidak terlambat untuk Daytour Shirakawa-go - Takayama, karena bus berangkat dari terminal Pk. 08.10, pastinya mau sarapan dulu kan ya.

Sampai di hotel saya balas-balas pesan sebentar, mandi (lagi), beres-beres barang dan baju buat besok pagi, lalu tidur. Rasanya gak sabar ingin cepat-cepat lihat Shirakawa-go yang selama ini hanya lihat di layar monitor dan handphone. Seharian itu cuaca cukup cerah, sempat gerimis, tapi siapa sangka besoknya di tengah-tengah tour sempat panik karena Typhon Hagibis 😅 So far, besok jadi perjanalan saya yang paling seru.

Tuesday, February 9, 2021

JAPAN TRIP 2019: Rencana Perjalanan (tanpa typhoon)

Banyak yang suka tanya proses saya menyusun perjalanan, jadi kali ini sekalian saya buat kronologi nya. Oh iya, setiap perjalanan selain buat rencana perjalanan yang detail disertai budget, di akhir perjalanan saya selalu update apa saja yang meleset, kenapa, dan berapa total uang yang saya habiskan. Makanya walaupun perjalanan sudah lama, saya masih bisa cerita dengan detail karena tinggal buka file excel yang saya buat untuk setiap perjalanan. Iya, SETIAP perjalanan. Memang sampai segitunya sih saya. Kenapa harus begitu? Karena saya bukan orang kaya yang bisa jalan-jalan kapan aja saya mau. Saya harus menabung. Dan kalau gak punya perencanaan yang jelas, bisa kehabisan duit di negara orang. Saya juga bukan backpacker, saya koper-er (istilah ngarang sendiri) dan gak bisa tidur di sembarang tempat. Jadi selalu menghabiskan banyak waktu di perencanaan supaya nyaman, sesuai keuangan dan masih bisa jajan maupun makan enak 😇 Silakan di simak kalo kepo, kalo nggak kepo ya gapapa juga.


Perencanaan Awal

Di akhir tahun 2018 saya sudah bikin rencana untuk kembali ke Jepang. Dan kali ini ingin mengunjungi Shirakawa-go. Setelah cari info, sepertinya lebih mudah kesana via Nagoya, tapi terus terang gak banyak yang ingin dilihat di Nagoya. Setelah saya browsing kok kurang menarik? Lalu saya explore lagi bagaimana dengan Osaka & Kyoto walaupun saya sudah berulang kali kesana, ternyata masih banyak tempat yang belum saya kunjungi. Dan lagi-lagi kalau harus memilih tinggal di Osaka atau Kyoto, akhirnya saya kembali memilih Kyoto 😅 Dan sejak awal Om S, Tante N dan Tante I memang ingin bergabung. Di tambah lagi dengan putrinya Tante N - Miss J, dan teman baik saya Mrs G & Mr H. Total rombongan jadi 7 orang. Baiklah, tidak sebanyak perjalanan sebelumnya, let's go!


Pencarian Tiket

Yang paling penting, tiket. Setelah browse sebentar saya hanya punya 2 opsi untuk penerbangan yang menurut saya jam-nya cocok dan gak nyusahin. Yang saya cari alternatifnya seperti ini:

Jakarta - Osaka - Jakarta (Osaka - Kyoto - Osaka dengan bus atau kereta)
Jakarta - Nagoya - Jakarta

Saya selalu lebih suka redeye flight kalau ke Jepang, karena kalau sampai sudah kesorean atau malam pilihan kendaraan untuk menuju akomodasi lebih terbatas dan ramai. Tapi sayangnya penerbangan overnight hampir selalu lebih mahal dari penerbangan pagi. Ya sudah, tidak apa, peserta lain bilang yang penting murah 😁 Maka pilihan jatuh pada ANA (All Nippon Airways) atau SQ (Singapore Airlines). Untuk ANA, penerbangan dari Jakarta menuju Tokyo, lalu menyambung ke kota tujuan. Sedangkan dengan SQ tentu saja dari Jakarta menuju Singapore dan berlanjut dari sana.

Saya mengincar harga tiket promo dari SQ BCA Travel Fair di bulan Februari atau ANA x HSBC Travel Fair di bulan Maret. Begitu SQ BCA Travel Fair dimulai saya pun berkunjung di hari  pertama, Jumat 15 Feb 2019. Saya memilih datang setelah jam kerja karena memang gak berminat antri dari subuh demi cashback juga sih, makasih deh 😂 Pagi harinya teman saya Miss M mengirim pesan apakah saya jadi cari tiket untuk ke Jepang hari itu? Saya jawab iya... ternyata Miss M dan suaminya Mr S ingin bergabung dengan rombongan kami. Sempat kaget, walah jadi 9 orang lagi 😅 tapi ya sudah, toh 7 atau 9 orang buat saya sudah gak ngaruh. Miss M langsung kirim copy passport dan saya langsung mampir ke salah satu gerai travel agent yang tidak terlalu ramai di Travel Fair.

Setelah dicek penerbangan yang available, eh ternyata penerbangan seperti ini harganya sama saja dengan yang saya sebut di atas: Jakarta - Nagoya dan return Osaka (KIX) - Jakarta. Saya langsung info di WAG yang telah kami buat untuk perjalanan ini, semua setuju dan saya langsung beli 4 tiket untuk saya sendiri, Tante I, Miss M & Mr S. Sedangkan untuk Mrs G dan Mr H perjalanan pulangnya dari rute yang berbeda. Tante N beli sendiri untuk keluarganya karena dibawah kantornya ada travel agent yang bisa memberi harga travel fair. Harga tiket menjadi Rp 5.030.000. Pilihan yang tepat, karena di bulan Maret-nya sewaktu saya cek harga tiket travel fair ANA, harganya hampir Rp 7 juta! 😐 Urusan tiket ini menjadi berkat pertama kami sepanjang perjalanan, karena setelahnya Tuhan begitu baik memberikan kemudahan-kemudahan lainnya.

Sewaktu menentukan tanggal dan durasi perjalanan, sebenarnya saya sempat ragu-ragu juga apakah saya pergi di pertengahan bulan Oktober pilihan yang tepat mengingat pengalaman dengan Typhoon LAN di tahun 2017? Saya coba cari info di awal tahun 2019, dan kebanyakan bilang harusnya aman dan cuaca juga enak. Ok, mantaplah... tapi beberapa hari menjelang keberangkatan keluarlah berita tentang Typhoon Hagibis. Huaaaaaaaaa! Pegimaneeee??? 😭 Ada kemungkinan penerbangan di cancel, sampai 1 hari sebelum berangkat kami cek belum ada perubahan jadwal. Kami pasrah, kalau Tuhan mengijinkan pergi sesuai jadwal pasti Tuhan tolong juga. Capcusssss! Kami pun terbang di hari Rabu, 9 Oktober 2019 dengan penerbangan SQ967 Pk. 20.15 menuju Singapore untuk kemudian connecting dengan SQ672 menuju Nagoya.


Pencarian Akomodasi & Transport

Karena pegang tiket dengan tujuan yang jelas, saya mulai menyusun itinerary. Memang belum detail, tapi cukup untuk menentukan dimana sebaiknya kami tinggal dan berapa budgetnya. Dan seperti biasa, kalau pergi dengan jumlah peserta ganjil kesulitannya adalah mencari hotel yang punya kamar triple. Tidak sampai seminggu sejak beli tiket saya mendapatkan hotel yang ideal untuk kami tinggali selama 3 hari 2 malam di Nagoya, Hotel Wing International Nagoya. Lokasi nya hanya kurang dari 2km dari Nagoya Station, sehingga mudah bagi kami bila ingin bepergian. Dan ternyata dekat ke tempat-tempat makan dan belanja setelah lihat di peta. Untuk memaksimalkan diskon dari OTA maka semua booking kamar masing-masing, jadi semua dapat diskon 😂 Harga kamar twin yang saya dapat adalah Rp 1.127.314 untuk 2 malam. Masih di bawah budget, asikkk.

Lalu saya santai mencari akomodasi Kyoto. Disini saya hanya perlu mencari tempat untuk 7 orang karena rencananya Mrs G dan Mr H hanya 3 malam di Kyoto dan akan melanjutkan ke Tokyo jadi mereka mencari akomodasi sendiri. Akhirnya saya mendapatkan sebuah rumah 2 tingkat di daerah Shinmachi - Imadegawa. Memang lokasinya tidak terlalu dekat dengan Kyoto Station, tapi akses keretanya hanya 1 kali. Di akhir perjalanan, tempat ini benar-benar terasa seperti rumah sendiri! Dari semua perjalanan saya, ini tempat yang membuat saya paling nyaman dan enggan untuk ditinggalkan. 

Saya dan Miss M di depan rumah kenangan di Imadegawa - Kyoto

Nilai plus dari rumah yang saya pesan melalui airbnb ini:

* Host nya super baik hati dan helpful. Namanya Takashi, saking baiknya kita beliin pudding untuk dia dan ditinggalin di kulkas saat check-out 😂 Nanti ada ceritanya kebaikan-kebaikan Takashi.
* Tempatnya luas dan nyaman. Lantai 1 ada ruangan dengan 3 tempat tidur, pantry dan kamar mandi sendiri. Lantai 2 ada 1 kamar dengan 3 tempat tidur dan 1 ruangan tatami yang bisa memuat 3 orang. Lalu ada ruang makan/pantry dan 1 kamar mandi. Semua perlengkapan makan lengkap termasuk kulkas, microwave dan kettle.
* Ini yang paling menyenangkan: selain ada mesin cuci, ada dryer juga! Jadi gak pusing soal njemur cucian di cuaca dingin! Biasanya saat bangun pagi kami cuci baju sebelum mandi. Saat mau pergi hasil cucian masukin dryer dan saat kami pulang sudah kering tinggal dilipat 😍
* Ada banyak tempat makan yang pada akhirnya gak sempat kami cobain juga hihi Dan persis di sebelah kami alias tetangga adalah kedai tempura. Hampir setiap pagi kami beli tempura untuk sarapan, pastinya saya puas-puasin makan tempura labu dong yah. Seperti Mr H sempat bilang: "Jauh-jauh ke Kyoto sebelahnya tukang gorengan!" 😂😂 Dan disitu juga ada vending machine (kelihatan sedikit di foto).
* Selain beberapa convenience store, ada 2 supermarket juga yang sangat dekat dan jadi tempat kami beli makanan dan minuman setiap hari. Bahagia... 
* Oh iya, persis di depan rumah adalah sebuah kampus dari Doshiha University. Kenapa buat saya nilai plus? Karena pemandangan cukup 'segar' saat saya keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kereta... lihat anak-anak kuliahan 😛 Bahkan di hari Minggu pagi, di depan gerbang ada 3 cowok yang sepertinya dari Klub Kendo berdiri pakai hakama warna biru tua, kyaaaaaaaa 😍😍 Saya berasa seperti jadi tokoh di komik! Hahaha

Tapi sayangnya, saking menikmati saya malah gak banyak foto-foto tempat ini loh! Beneran berasa rumah sendiri 😅 Saya mau ambil foto bagian dalamnya dari airbnb sepertinya tempat ini sudah tidak aktif, tidak bisa di buka lokasinya lagi. Semoga Takashi baik-baik saja.

Setelah urusan akomodasi beres, saya mulai mikir soal transportasi. Karena untuk menuju hotel dari Chubu Centrair International Airport tempat kami mendarat kami harus naik bus disambung dengan kereta. Sudah sempat mau booking airport bus menuju Nagoya Station, tapi ternyata baru bisa 1 bulan sebelumnya. Iseng-iseng saya coba cari alternatif untuk airport transfer tapi kok mahal ya? Saya masih belum bisa memutuskan sampai sekitar bulan Juli saya terima notification ada promo wisata ke Jepang dari sebuah OTA. Promo berlaku untuk transport, hotel maupun tempat wisata. Voila! Saya bisa mendapatkan 2 buah mobil Alphard untuk membawa kami dari airport menuju hotel di Nagoya hanya dengan biaya Rp 331.770/orang! Setelah saya hitung-hitung hanya beda Rp 90ribu lebih banyak dari biaya airport bus + kereta yang saya dapat sebelumya. Gak mau rugi, saya buru-buru cek apakah bisa dapat airport transfer juga dari Kyoto Station menuju ke Kansai International Airport untuk kepulangan kami. Eh gak ada. Ya sudah, saya pikir naik bus dari Kyoto Station juga kan hanya sekali aja, gak pake ganti kendaraan. Seperti biasa, tiket baru bisa dibeli 1 bulan sebelumnya jadi saya juga santai.

Tapi berkat Tuhan ternyata belum berhenti disitu. Saya berencana membeli paket perjalanan Daytrip ke Shirakawa-go melalui Klook, dan paket baru tersedia di bulan September. Di saat yang sama Klook juga mengadakan "Japan Autumn Promo" dimana saya bisa mendapatkan diskon Rp 800ribu untuk paket wisata. Setelah beli paket wisata yang dimaksud, saya browsing dan lihat ada airport transfer dan sewa mobil juga. Saya masukkan tujuan dari Kyoto Station menuju Kansai International Airport daaaaan, ada sodara-sodara! Passss banget! Saya dapat HiAce yang cukup buat 7 penumpang di luar supir + tempat untuk bagasi! Kalau tanpa bagasi bisa muat 10 orang. Puji Tuhan, saya terharu banget waktu booking 😭 Harganya Rp 2.502.650, atau sekitar Rp 357.522/orang. Untuk perjalanan 2 jam, ini termasuk murah. Karena selain nyaman kami bisa tidur enak di mobil dan bangun saat sudah tiba di airport.

Transport terakhir yang dibeli adalah tiket bus dari Nagoya Station menuju Kyoto Station. Saya beli online disini di akhir bulan Oktober untuk keberangkatan Pk. 17.00. Maksudnya supaya kami punya hari ekstra untuk berjalan-jalan di Nagoya (karena semua punya tujuan berbeda), sehingga tiba di Kyoto Pk. 19.00 malam kami bisa langsung makan malam dan jajan. Jadi sampai akomodasi tinggal pilih kamar, gantian, mandi, santai-santai dan tidur. Rencananya begitu sih, tapi manusia berencana Tuhan menentukan lain. Karena pada akhirnya kami harus meninggalkan hotel Nagoya subuh-subuh, di tengah rintik hujan (kaya pelem dah), masih gelap dan laparrrrr 😆 Another drama is coming!

Dari bulan Maret - April, saya mulai menyusun itinerary. Belajar dari pengalaman pertama bawa rombongan, saya gak mau stress tapi sedikit egois 😁 Jadwal saya bikin tidak terlalu padat dan ada keleluasaan buat yang lain untuk berjalan-jalan sendiri, freetime! Otherwise semua harus ikut jadwal saya hahaha Pada akhirnya saya tetap menyusun jadwal yang membahagiakan saya dulu tapi tetap memikirkan mereka yang first timer untuk mengunjungi tempat-tempat yang pasaran tapi yang saya juga suka hohoho Dan ternyata ini memang lebih stress free, karena semua sepakat, semua ngikut, dan kalau misah semua juga senang gak ada yang keberatan. Amen! 😇

Ini yang saya beli untuk perjalanan wisata kita:

* Tiket JR Kansai Wide Area Pass 5-day seharga JPY 10.000 yang saya beli melalui OTA menjadi Rp 1.265.040,- 
* Daytrip Shirakawago - Takayama dari Klook seharga Rp 1.098.535,- Kenapa saya memutuskan ambil daytrip? Untuk menghemat waktu. Karena kalau naik kereta harus ganti-ganti dan jalan kakinya jauh. Bisa-bisa gak dapat semua tempat karena habis waktu di kereta dan bus. Paket ini sudah termasuk makan siang buffet di sebuah hotel bintang 4. Good deal kan? 

Hanya itu yang saya beli sejak dari Jakarta, karena sisanya tiket-tiket masuk tempat lain langsung beli di lokasi ataupun banyak yang gratis juga. Semua sudah saya perhitungan dalam budget, sehingga sejak awal saya sudah info ke peserta lainnya berapa uang YEN yang harus dibawa untuk mencukupi biaya makan standard, ongkos keliling, jajan dan tempat wisata yang perlu tiket. Iya, saya selalu begini supaya tahu harus tukar duit berapa sebelum berangkat. Untuk oleh-oleh dan jajan di airport biasanya saya pakai kartu kredit, tapi itu juga sudah di budget-kan.

Begitulah cara saya jalan-jalan. Jalan-jalan sendiri, berdua, maupun bersembilan ya caranya begitu. Ribet? Buat saya sih nggak, karena jadinya saya gak pernah tekor secara uang maupun waktu. Sudah pasti gak semua nya bisa berjalan 100% lancar seturut rencana, tapi paling tidak saya gak buang waktu kebingunan mau kemana abis ini? Mau ngapain besok? Mau makan dimana? Duh, duit masih cukup gak ya? Ha, baru 3 hari udah pake duit segini banyak? No no no! Gak begitu aja selalu ada drama kok. Beneran loh... tungguin aja ceritanya 😁 


Monday, February 8, 2021

JAPAN TRIP 2017: Akhirnya Pulang

Sebelumnya...


Jumat, 28 Oktober 2017. Saat saya pulang malam sebelumnya, semua housemate sudah tidur. Setelah mandi dan berbaring, entah kenapa saya tidak bisa tidur. Rasanya masih bingung, kok besok sudah mau pulang ya? Kok kayanya banyak yang belum di lihat ya? Kok sepertinya saya gak terlalu happy ya? Kok banyak plan saya yang gak terlaksana ya? Pertanyaan-pertanyaan ini juga ada sebabnya, nanti ya di akhir post ini baru saya ceritain.

Kami harus check-out sebelum Pk. 10.00 walaupun penerbangan pulang kami masih Pk. 23.30. Inilah enaknya terbang dari Haneda Airport, karena masih di tengah kota dan dari apartment kami hanya 1x naik kereta, kami bisa drop bagasi dulu di locker airport dan lanjut jalan-jalan sampai malam hari. Saya sudah packing barang dari hari sebelumnya jadi gak banyak yang musti diberesin selain ribet karena ada titipan buku yang tebal sekali dari Tari untuk temannya di Jakarta. Yang ternyata bikin penuh koper T____T Tapi ternyata masih ada drama, karena waktu saya buka tas kecil yang di pakai semalem, dompet saya gak ada! Aduh rasanya mau nangis... Uangnya masih lumayan, ada sekitar JPY 20.000 yang saya save karena ingin beli barang idaman di Akihabara. Dan untungnya lagi, kartu-kartu kredit saya pisahkan di tempat lain. Saya buru-buru kirim message ke Yusuke apakah dompet saya terjatuh di mobilnya? Sambil menunggu jawaban, saya beres-beres barang dan berusaha tersenyum walaupun dalam hati sedih banget. Bukan karena uangnya, tapi perasaan hati yang sudah gak enak tambah parah lagi. Tante N dan Tante I sangat baik dan menawarkan untuk pakai uang mereka dulu untuk beli barang idaman saya, tapi saya tolak karena masih ada kartu kredit yang bisa dipakai, paling minta traktir makan aja nanti hahaha Puji Tuhan Yusuke membalas pesan dan info bahwa dompet saya memang terjatuh di kursi belakang. Akhirnya kami janjian untuk ketemu di toko yang saya tuju di Akihabara.

2 rombongan berangkat menuju airport sendiri-sendiri dan janjian langsung ketemu disana.Sambil menunggu, begitu sampai saya langsung menuju toko oleh-oleh untuk beli macam-macam yang mau di bawa pulang. Supaya semua bisa langsung masuk koper dan malamnya tinggal check-in aja gak repot belanja lagi. Paling beli yang kecil-kecil di dalam sebelum boarding. Semua yang dibeli langsung saya packing dan karena saya gak punya koin lagi untuk locker saya ke bagian penitipan bandara saja. Sedikit lebih mahal, tapi semua barang dan bagasi muat dalam 1 compartment besar. Setelah semua ketemu, kita langsung bareng-bareng lagi menuju Akihabara.

Sampai Akihabara rombongan pun terpecah selain cari makan siang, ada yang mau beli oleh-oleh juga. Kebetulan saya hanya sendiri (yang melegakan karena saya sedang emo saat itu). Saya sudah lapar, maka langsung meluncur ke tempat ramen favorit, Kyusu Jangara Ramen. Pertama kali ke tempat ini dalam kunjungan pertama saya ke Jepang tahun 2010, saya diajak teman - Tomoko. Dan setelah mencoba beberapa resto ramen yang terkenal, entah kenapa saya paling suka disini.

Gak inget menu apa yang saya pesan, kalau lihat menu mungkin baru ingat :)

Pingin naik deh! Banyak sekali kendaraan seperti ini disewakan di sekitar Akihabara.

Setelah makan siang dan berbekal panduan google maps saya pun langsung menuju ke tempat tujuan yang saya nanti-nantikan, yaitu toko kaca-mata ANIMEGANE. Loh? Iya, saya mau beli frame kacamata disana hahaha Kenapa harus kesana? Karena Animegane adalah toko kacatama yang ber-kolaborasi dengan anime-anime popular. Yang kenal saya dengan baik pasti tahu kacamata anime mana yang saya incar. Sebetulnya saya naksir berat dengan salah satu frame kolaborasi dengan Evangelion di bawah ini:

Photo credit: Animegane online shop.

Tapi apa daya, jauh harganya jauh di atas budget saya saat itu. Maka tanpa pikir panjang saya beli kacamata kolaborasi dengan anime kesayangan, Naruto.

Kacamata Sarada warna merah! Detail banget, ada symbol Sharingan pula di ujung frame-nya.

Waktu saya berdiri lama di depan kacamata ini, shop attendant mendatangi dan tanya apakah saya suka frame itu? Saya bilang iya karena saya penggemar berat Naruto LOL dia pun tertawa dan saya disuruh coba frame-nya. Waktu lagi coba frame teman saya Yusuke pun datang membawa dompet, horeee!! Karena shop attendant dan Yusuke bilang cocok, langsung saya bayar 😂 Setelah menenteng paper bag berisi kacamata ini mood saya membaik, at least keinginan saya yang paling besar ada yang tercapai di hari terakhir liburan. Yusuke pun mengantarkan saya jalan kembali ke tempat sudah di tentukan bersama sebelumnya dan setelah saya bertemu dengan yang lain dia pun pulang.

Setelah semua berkumpul, rombongan kembali terpecah 2, saya dengan Om S, Tante N dan Tante I karena ingin ke Asakusabashi untuk mencari beads dan pelengkapan craft lainnya untuk Tante N. Saya pernah tinggal di area ini sewaktu berlibur di tahun 2014. Dan ada toko Taiyaki yang enak sekali di atas jembatan, saya masih ingat karena setiap pulang ke hotel saat itu saya selalu membeli Taiyaki untuk di makan sambil berjalan. Pas banget tokonya baru buka saat kita mampir setelah puas jalan-jalan dan belanja, jadi perhentian terakhir sebelum menuju airport.

Selalu rame dan banyak yang antri, emang enak banget Taiyaki di sini.

Dingin-dingin makan Taiyaki panas, nikmaaaat...

Di Asakushabashi Station ada tempat pengembalian kartu PASMO, kami sekalian cash-out sisa saldo yang ada dan beli one way ticket ke airport. Perjalanan ke airport memakan waktu 1 jam lebih sedikit, saya jadi mengantuk tapi kereta penuh karena sudah lewat jam pulang kantor dan sempat lama berdiri. Tiba di airport kami langsung ambil bagasi dan antri check-in karena ternyata rombongan lainnya sudah check-in duluan. Proses check-in nya gak lama, tapi antrinya yang panjang. Not bad lah, karena kami masih menunggu boarding sekitar 2 jam. Setelah melewati proses check-in kami masuk dan saya masih sempat belanja coklat Royce dan Sake untuk dibawa pulang. Karena saya sudah bawa 1 botol Umeshu di dalem koper saya hanya membeli 1 botol sake, padahal pinginnya lebih LOL Kita juga masih sempat jajan dan makan malam beli di convenience store dalam airport sambil melihat-lihat runway walaupun hanya sebentar karena anginnya dingin banget!

Demi foto ini rela dingin-dinginan, saya yang paling terakhir beranjak dari sana LOL

Om S dan Tante N sempat berfoto dengan latar belakang runway.

Saat terakhir menunggu boarding akhirnya saya memisahkan diri dari rombongan karena mood saya memburuk. Saya sendiri sampai sekarang masih heran kenapa disaat-saat terakhir emosi saya membludak. Mungkin karena rasa lelah atau merasa banyak hal yang terjadi di luar harapan dan kendali saya, sehingga saya sempat tidak bisa menahan amarah. Saya memisahkan diri bukan karena ngambek seperti yang dipikirkan orang lain sebenarnya LOL Tapi saya orang yang perlu duduk diam dan berpikir dalam keadaan seperti ini. Dan supaya saya tidak menyakiti orang lain juga dengan perkataan-perkataan yang mungkin keluar lewat emosi saya. Jadi saya memilih duduk sendiri di pintu yang paling jauh dari ruangan boarding, arah sebaliknya dari rombongan.

Saat saya duduk sendiri saya pun menangis sesenggukan selama 1 jam hahaha puassss deh! Perjalanan ini benar-benar baru buat saya, karena selain harus membuat itinerary yang baik dan memenuhi keinginan setiap orang, tidak bisa dipungkiri bahwa kalau pergi rame-rame ada banyak yang harus kita korbankan juga; saat itu bagi saya harus mengorbankan emosi. Perasaan saya sedang jungkir balik karena ini perjalanan pertama sejak Papi dipanggil pulang Bapa di surga di bulan Juni 2017. Saya kira saya bisa bersenang-senang dan melupakan stress, tapi ternyata tidak seperti itu. Papi adalah orang yang mengenalkan saya dengan Jepang dan budayanya. Untuk pertama kalinya sejak saya mampu berlibur dengan biaya sendiri saya tidak harus menelepon ke rumah untuk bertanya kabar Papi atau sekedar cerita apa yang saya alami. Cukup dengan WA adik dan ipar saya.

Biasanya begitu mendarat saya langsung berkabar: "Pap, aku baru sampe!" atau malam pertama setelah tiba saya suka cerita "Pap, tadi ada kejadian ini loh!". Tapi saat itu saya gak bisa lagi telpon dan mendengar suaranya. Bahkan di airport pun saya tetap beli makanan kesukaannya walaupun saya tahu nanti mungkin harus saya kasih orang karena buat saya makanan itu terlalu manis. Tapi selama ini saya makan bareng Papi, supaya dia senang. Saat mengalami ada Typhoon LAN lewat saya juga cuma bisa 'seru sendiri', saya masih sempat cerita ke sepupu saya Sarah via WA. Juga ke Pak Boss yang sempat berkirim pesan saya terimbas typhoon gak? Jari saya sudah di atas keypad handphone, karena kalau telpon pasti Papi ikut seru juga dengar cerita bagaimana handphone baru yang saya kira hilang bisa ketemu, bagaimana di saat yang mepet saya masih bisa berfoto dengan Fuji-san. Tapi kenyataan itu memang gak seindah harapan. Ketika duduk sendiri dan menangis di tempat yang sepi itu (sempet diliatin orang lain yang mau boarding juga sih, tapi saya udah bodo amat namanya juga emosi hahaha) justru hati saya jadi lebih lega. Saya jadi melihat bahwa saya terlalu childish dan harus sadar bahwa saya tidak bisa menyenangkan semua orang, apapun yang saya kerjakan saya sudah usahakan yang terbaik walaupun mungkin hasilnya gak sesuai standard yang saya set sendiri. Setelah perjalanan ini saya sempat mengalami depresi sampai 6-7 bulan setelahnya. Bangun tidur saya nangis, mau tidur saya nangis, lagi nyetir pulang kerja di tengah kemacetan saya nangis, pokoknya neverending nangis gak jelas deh! Sampai akhirnya Tuhan pulihkan lewat banyak hal.

Pada akhirnya saya gak menyesal sih sudah pergi rame-rame, banyak yang saya nikmati juga. Dan saya jadi mengerti maksud Tuhan... bahwa saya di persiapkan untuk menghadapi Typhoon Hagibis dalam perjalanan saya 2 tahun kemudian di bulan Oktober 2019 😂 Haduhhh ini lebih seru lagi tapi paling tidak saya sudah gak panik dan bisa berpikir lebih jernih... Saya adalah orang yang sulit hidup tanpa kerutinan dan perencanaan yang baik. Sehingga sering kali saya stress atas hal-hal yang terjadi di luar kontrol saya. Itulah sebabnya saya sangat tidak suka orang membatalkan jadwal secara mendadak tanpa alasan yang bisa saya terima. Tapi kalau alam yang bekerja, mau marah sama siapa? Hahaha Kejadian-kejadian seperti ini yang membuat saya belajar lebih fleksibel dengan diri saya sendiri dan orang lain. Sehingga perjalanan berikutnya lebih bisa saya nikmati walau masih berombongan lagi :) 

Ditunggu ya perjalanan berikutnya! Bye byeeeee...

Monday, February 1, 2021

JAPAN TRIP 2017: Hama Rikyu Garden & Odaiba


Rabu, 25 Oktober 2017. Karena 2 hari sebelumnya sudah cukup capek jalan-jalan ke Kawaguchiko dengan segala drama typhoon nya, hari ini sengaja saya buat santai dan touristy. Kita kembali ke Asakusa karena rombongan susulan mau lihat juga, lalu ke Tsukiji Market buat jajan dan terakhir ke Shibuya. Apalagi kalau bukan ingin berfoto dengan patung Hachiko hahaha Setengah hari cukup cerah, lalu sisanya sampai malam hari hujan gerimis dan sangat dingin. Terus terang gak banyak foto yang saya buat hari ini karena semuanya sudah pernah saya kunjungi dan cuaca dingin ini memang bikin saya rada mager ^^" Saat di Asakusa pun rombongan terpecah menjadi rombongan Tante-tante dan Om-om... saya ngikut Om-om karena kalo gak dipaksa foto mereka mungkin gak punya foto disana :) Dan saking lamanya nunggu Tante-tante belanja kita pun sempat nongkrong disebut coffeeshop kecil di salah satu gang dekat Sensoji Temple.

Walaupun sedang dingin, tapi ternyata secangkir Ice Vienna ini bikin saya segar! Enak banget!

Ini Bapak-bapak lebih banyak bahas budaya dan arsitekturnya selama perjalanan.

Syukurlah mau saya atur-atur sedikit berdirinya biar rapi hahaha

Selama di Shibuya juga saya cuma nongkrong di Starbucks Tsutaya, karena ada seasonal drink yang ingin saya coba, sekalian lihat-lihat CD. Walaupun rame banget, saya masih dapat seat diatas yang bisa melihat view crossing yang super ramai itu. Malam harinya saya dinner dengan makanan dari Thai Restaurant di bawah unit apartment kami. Lucu juga sudah mendekati hari kepulangan kami baru mencoba makanan dari sana :)


Kamis, 26 Oktober 2017. Hari ini kami mau jalan-jalan di tempat terbuka, jadi saya memilih Hama Rikyu dan Odaiba. Pertama kali mengunjungi Hama Rikyu saat berlibur di tahun 2014 dengan teman saya, Popon. Saat itu kami janjian bertemu dengan Kota & Sachiko disana. Sebelum bertemu Kota, saya masih ingat karena kami berkunjung di musim semi, udara sangat sejuk membuat kami mengantuk. Kami sempat napping di atas rerumputan, berbantal tas masing-masing dan muka di tutup jaket LOL Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta yang gak ada taman besar dan bagus, kalau pergi berlibur biasanya saya memang cari tempat-tempat terbuka seperti ini, menikmati udara segar tanpa polusi. Kadang benar-benar hanya duduk dan bengong... begitu aja udah menikmati hidup kayanya.

Anyway, karena saat ini musim gugur, typhoon habis lewat, taman jadi sedikit lembab dan basah. Dingin juga pastinya sehingga saya gak bisa napping di bawah pohon, tapi di semacam pendopo sambil ngemil.

Tante C diantara yang ijo-ijo...

Tante N yang gak bisa liat toko souvenir, pasti langsung dicek isinya.

Hijau dimana-mana bikin mata segar dan perasaan happy.

Akhirnya punya foto hehe saya memang lebih suka foto daripada di foto kalau jalan-jalan.

Di tengah Hama Rikyu ada tea house, Nakajima no-ochaya. Selain Tante I dan Tante C, kami semua sempat mengikuti cara minum acara minum teh (matcha). Disini diajarin cara duduk yang benar, cara pegang cangkir, cara memotong wagashi... untung juga di Jakarta gak pake ginian, tinggal hap aja kalo ada suguhan ROFL

Saya sendiri gak kuat 'seiza' (berlutut) begini lama-lama, sakiiittt.... 

Matcha dan wagashi. Cakep ya wagashi nya :) Makannya sayang hihihi

Saat mau kembali ke pintu keluar (yang sama dengan pintu masuk) kami ambil jalan memutar ke arah sebaliknya, supaya bisa lebih banyak melihat bagian dari taman. Eh ketemu tempat cakep buat foto-foto, dimana daun-daunnya yang berjatuhan sudah menguning dan memerah. Langsung deh parkir cukup lama dan foto bergantian disana.


Rasanya pingin tiduran aja disitu, cuma dingin :)

Padahal sama pohon doang tapi ga berenti-berenti foto LOL

Selca gak boleh ketinggalan dong ye 😎

Kelihatannya 'sunny' ya, tapi rumput-rumput di pinggiran itu basah semua.

Puas jalan-jalan di Hama Rikyu, kita langsung berlanjut ke Odaiba. Udah laper banget sebenarnya tapi kita mau sekalian lunch disana. Tujuan pertama? Pastinya foto dengan Gundam di depan Diver City dong! ROFL Rasa lapar di tahan-tahan, musti foto dulu!

Tahun 2014 waktu saya pertama kali foto disini, patungnya masih RX-78-2 Gundam yang ada warna biru/merahnya. Tapi di bulan September 2017, 1 bulan sebelum kami datang baru di ganti dengan RX-0 Unicorn Gundam yang sedikit lebih besar, jadi benar-benar masih fresh nih! Too bad malamnya saya gak bisa balik untuk lihat destroyer mode nya dengan lampu-lampu menyala di bodi-nya. Saya memang bukan penggemar filmnya, hanya nonton beberapa. Tapi saya suka gunpla walaupun hanya merakit yang kecil-kecil aja, biar cepet kelar 😅 Tapi sekarang sudah gak pernah lagi, soalnya gak tahu juga mau di taruh mana yang udah jadi. Pernah ada yang diambil anak-anak yang main ke rumah.

Untuk pembanding aja, ini si RX-78-2 yang saya foto di Spring 2014. Tingginya 18 meter.

Ini si RX-0 Unicorn Gundam penggantinya di September 2017 dengan tinggi 19.7 meter.

Kayanya saat itu saya yang paling bahagia di rombongan hahaha

Lunch di Diver City yang saya pilih karena si telor setengah mentah di tengah-tengah itu.

Lalu kemana perginya si RX-78-2 setelah di gantiin sama yang baru? Silakan dibaca disini aja biar jelas :) Udah kelar ngadem di Diver City, udah kenyang makan, maka kita lanjut lagi jalan menuju ke Venus Fort... Jalan santai, cuaca adem, mata setengah kriyep-kriyep... Masuk Venus Fort mulai melek deh yang laki-laki karena showcase mobil-mobil antik. Apalagi dari situ kita berlanjut kesebelahnya, Toyota City Showcase @MegaWEB. Seru banget, bisa nyoba riding pakai VR, lihat segala macem mobil yang pernah di issue Toyota, bahkan coba dinaikkin walau gak bisa di test drive 😁 Saya bersama rombongan Om-om lama banget disini walaupun mencar-mencar, sementara rombongan Tante-Tante naik Ferris Wheel tepat di luar gedung.

BangPil yang jarang-jarang foto sendiri mau juga foto di depan mobil antik.

Kak C gamo kalah, seumuran deh ni sama mobil ijo di atas kayanya hehe

Foto dulu, kapan-kapan beli ya Om S :)

Biarpun gak punya yang penting udah ngerasain naik mobilnya walopun gak jalan LOL



Kami disini sampai hari mulai gelap di luar. Lalu akhirnya kami berjalan menuju deck untuk melihat Rainbow Bridge & Patung Liberty (iya, ada miniatur nya disini). Tapi akhirnya rombongan Om-om (dan saya) lagi-lagi misah untuk ngopi karena rombongan Tante-tante sibuk belanja. Agenda saya malam hari ini memang berbeda dari yang lain. Saya akan bertemu dengan putri teman saya, Tari, yang baru kelar belajar dan sedang mencari kerja disana, sekalian mau ditraktir makan malam oleh teman , Yusuke Harima dan Daisuke Inoue

Cakep ya panorama Odaiba! Ini difoto di Deck, Rainbow Bridge nya gak terlalu keliatan tapi...

Aduh, dinner ini seru banget! Saya kenal Yusuke sekitar tahun 2010 saat dia ditempatkan di Jakarta oleh perusahaan tempat dia bekerja. Kebetulan Yusuke adalah kenalan dari teman Indonesia saya yang saat itu berdomisili di Tokyo. Yusuke hanya beberapa tahun di Jakarta lalu kembali ke Tokyo. Daisuke adalah kolega nya yang pernah diajak ikut ke Jakarta sebentar. Waktu itu kita ketemu hanya untuk dinner karena mereka harus kembali ke Tokyo di malam yang sama, jadi setelah dinner saya antar mereka ke airport Soetta. Pertemuan singkat, tapi kami masih tetap keep in touch via FB, jadi lepas kangen malam itu. Pembicaraan juga rame, Tari pun punya kenalan baru :)

After dinner saya dan Tari masih sempat di ajak jalan-jalan naik tol, dan mengantarkan saya sampai ke apartment. Waktu baru tiba, rasanya cukup lama juga ya kami akan jalan-jalan disini, tapi habis ketemu teman tahu-tahu sudah waktunya pulang keesokan hari 😭 Liburan selalu rasanya begitu...

Yusuke - saya - Tari - Daisuke. Uh, jadi kangen... Tari sekarang sudah kembali di Jakarta.

Walaupun besok kami sudah harus check-out dari apartment pagi, masih banyak tempat yang mau saya tuju. Tentunya gak sah kalo ke Tokyo gak mampir Akihabara untuk cari merchandise anime! Tapi tujuan utama saya adalah makan ramen di tempat favorit dan beli kacamata 😂 Ha? Jauh amat beli kacamata di Akihabara? Tentunya karena ada hubungannya dengan anime doooonnggg... Hiii, 1 post lagi kelar sudah acara jalan-jalan ini.